This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Halaman

Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 Juli 2022

PROYEK PENGUATAN PROFIL PELAJAR PANCASILA (P5) DALAM KURIKULUM MERDEKA

A.  PROFIL PELAJAR PANCASILA (P3)

  1. Bernalar kritis, Para siswa diharapkan memiliki kemampuan memecahkan masalah. Hal ini berhubungan dengan kemampuan kognitif.
  2. Mandiri, Siswa secara independen termotivasi meningkatkan kemampuannya, bisa mencari pengetahuan serta termotivasi.
  3. Kreatif, Siswa bisa menciptakan hal baru, berinovasi secara mandiri, dan mempunyai rasa cinta terhadap kesenian dan budaya.
  4. Gotong-royong, Siswa memiliki kemampuan berkolaborasi yang merupakan softskill utama yang terpenting di masa depan agar bisa bekerja secara tim.
  5. Kebhinekaan global, Siswa mencintai keberagaman budaya, agama dan ras di negaranya serta dunia, sekaligus menegaskan mereka juga warga global.
  6. Berakhlak mulia, Siswa memahami moralitas, spiritualitas, dan etika berada, yang merupakan hasil dari pendidikan karakter. 

B. PENGUATAN PROFIL PELAJAR PANCASILA (P4)

  1. Bernalar kritis, Elemen kuncinya : 
    1. Ahklak beragama, 
    2. ahklak pribadi, 
    3. ahklak kepada manusia, 
    4. ahklak kepada alam, 
    5. ahklak bernegara
  2. Mandiri, Elemen kuncinya : 
    1. mengenal dan menghargai budaya, 
    2. kemampuan komunikasi intelektual dalam berinteraksi dengan sesama, 
    3. refleksi dan tanggungjawab terhadap pengalaman kebinekaan
  3. Kreatif, Elemen kuncinya : 
    1. kolaborasi, 
    2. kepedulian, 
    3. berbagi
  4. Gotong-royong, Elemen kuncinya : 
    1. kesadaran akan diri dan situasi yang dihadapi, 
    2. regulasi diri
  5. Kebhinekaan global, Elemen kuncinya : 
    1. memperoleh dan memproses informasi dan gagasan, 
    2. menganalisis dan mengevaluasi penalaran, 
    3. merefleksi pemikiran dan proses berpikir, 
    4. mengambil keputusan
  6. Berakhlak mulia, Elemen kuncinya : 
    1. menghasilkan gagasan yang orisinal, 
    2. menghasilkan karya dan Tindakan yang orisional 

C. TEMA UMUM PROJEK PENGUATAN PROFIL PELAJAR PANCASILA (P5)

  1. Gaya Hidup Berkelanjutan, Tema ini dimaksudkan untuk memahami dampak dari aktivitas manusia, baik jangka pendek maupun panjang, terhadap kelangsungan kehidupan di dunia maupun lingkungan sekitarnya. Hal yang ditekankan di sini adalah membangun kesadaran untuk bersikap dan berperilaku ramah lingkungan serta mencari jalan keluar untuk masalah lingkungan. Untuk contoh kegiatan yang bisa dilakukan oleh peserta didik misalnya seperti kerja bakti membersihkan lingkungan ataupun penanaman pohon guna penghijauan lahan.
    1. Peserta didik mengembangkan kemampuan berpikir sistem untuk memahami keterkaitan aktivitas manusia dengan dampak-dampak global yang menjadi akibatnya, termasuk perubahan iklim.
    2. Peserta didik dapat dan membangun kesadaran untuk bersikap dan berperilaku ramah lingkungan serta mencari jalan keluar untuk masalah lingkungan serta mempromosikan gaya hidup serta perilaku yang lebih berkelanjutan dalam keseharian.
    3. Peserta didik juga mempelajari potensi krisis keberlanjutan yang terjadi di lingkungan sekitarnya (bencana alam akibat perubahan iklim, krisis pangan, krisis air bersih dan lain sebagainya), serta mengembangkan kesiapan untuk menghadapi dan memitigasinya
    4. Contoh muatan lokal: Jakarta: situasi banjir Kalimantan: hutan sebagai paru-paru dunia
  2. Kearifan Lokal, Saat ini Indonesia sedang dilanda krisis identitas diri yang disebabkan oleh lunturnya budaya dan juga kearifan lokal masyarakat. Maka dari itu tema ini dipilih agar dapat membangun rasa ingin tahu dan kemampuan inkuiri melalui eksplorasi tentang budaya dan kearifan lokal masyarakat sekitar atau daerah tersebut, serta perkembangannya. Untuk kegiatannya bisa disesuaikan dengan kearifan lokal masing-masing.
    1. Peserta didik mempelajari bagaimana dan mengapa masyarakat lokal/ daerah berkembang seperti yang ada, bagaimana perkembangan tersebut dipengaruhi oleh situasi/konteks yang lebih besar (nasional dan internasional), serta memahami apa yang berubah dari waktu ke waktu apa yang tetap sama.
    2. Peserta didik juga mempelajari konsep dan nilai-nilai dibalik kesenian dan tradisi lokal, serta merefleksikan nilai-nilai apa yang dapat diambil dan diterapkan dalam kehidupan mereka.
    3. Peserta didik juga belajar untuk mempromosikan salah satu hal yang menarik tentang budaya dan nilai-nilai luhur yang dipelajarinya. 
    4. Contoh muatan lokal: Jawa Barat: sistem masyarakat di Kampung Naga Papua: sistem masyarakat di Lembah Baliem
  3. Bineka Tunggal Ika, Intoleransi dan radikalisme menjadi isu yang cukup menjadi sorotan belakangan ini. Oleh karena itu, Kemendikbudristek merasa perlu mengangkat tema bineka tunggal ika dalam Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila. Peserta didik diajak untuk mengenal belajar membangun dialog penuh hormat tentang keberagaman kelompok agama dan kepercayaan yang dianut oleh masyarakat sekitar dan di Indonesia serta nilai-nilai ajaran yang dianutnya. 
    1. Peserta didik mempelajari perspektif berbagai agama dan kepercayaan tentang fenomena global, misalnya masalah lingkungan, kemiskinan, dan sebagainya. 
    2. Peserta didik secara kritis dan reflektif menelaah berbagai stereotip negatif yang biasanya dilekatkan pada suatu kelompok agama, dan dampaknya terhadap terjadinya konflik dan kekerasan.
    3. Melalui projek ini, peserta didik mengenal dan mempromosikan budaya perdamaian dan antikekerasan. 
    4. Contoh muatan lokal: Menangkap isu-isu atau masalah keberagaman di lingkungan sekitar dan mengeksplorasi pemecahannya
  4. Bangunlah Jiwa dan Raganya, Selain intoleransi dan radikalisme, perundungan juga menjadi perhatian khusus, terutama di lingkungan sekolah. Tema ini diperuntukkan bagi satuan pendidikan guna membangun kesadaran dan keterampilan peserta didik untuk memelihara kesehatan fisik dan mental, baik untuk dirinya maupun orang sekitarnya. Satuan pendidikan bisa membuat kegiatan hari anti-bullying dan sebagainya untuk menekan kasus perundungan di lingkungannya.
    1. Peserta didik melakukan penelitian dan mendiskusikan masalah-masalah terkait kesejahteraan diri (wellbeing) mereka serta mengkaji fenomena perundungan (bullying) yang terjadi di sekitar mereka, baik dalam lingkungan fisik maupun dunia maya, serta berupaya mencari jalan keluarnya.
    2. Peserta didik juga menelaah masalah-masalah yang berkaitan dengan kesehatan dan kesejahteraan fisik dan mental, termasuk isu narkoba, pornografi, dan kesehatan reproduksi. 
    3. Peserta didik merancang kegiatan dan komitmen untuk senantiasa menjaga kesejahteraan dirinya dan orang lain, serta berusaha untuk mengampanyekan isu terkait. 
    4. Contoh muatan lokal: Mencari solusi untuk masalah cyber bullying yang marak di kalangan remaja lokal.
  5. Suara Demokrasi, Indonesia merupakan negara demokrasi di mana setiap keputusan sebisa mungkin diambil secara musyawarah. Hal ini diangkat dalam Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila untuk menumbuhkan jiwa-jiwa demokrasi peserta didik melalui kegiatan-kegiatan tertentu. Misalnya kegiatan pemilihan raya ketua OSIS.
    1. Peserta didik merefleksikan makna demokrasi dan memahami implementasi demokrasi serta tantangannya dalam konteks yang berbeda, termasuk dalam organisasi satuan pendidikan dan/atau dalam dunia kerja.
    2. Menggunakan kemampuan berpikir sistem, peserta didik menjelaskan keterkaitan antara peran individu terhadap kelangsungan demokrasi Pancasila. 
    3. Contoh muatan lokal: Sistem musyawarah yang dilakukan masyarakat adat tertentu untuk memilih kepala desa.
  6. Berekayasa dan Berteknologi Untuk Membangun NKRI, Pemanfaatan teknologi yang maksimal bisa menandakan majunya kualitas SDM sebuah bangsa. Maka dari itu, implementasi rekayasa dan teknologi terus didorong agar peserta didik dapat berkolaborasi dalam melatih daya pikir kritis, kreatif, inovatif, sekaligus kemampuan berempati untuk berekayasa membangun produk berteknologi yang memudahkan kegiatan dirinya dan juga sekitarnya. Satuan pendidikan dapat membuat proyek yang mendorong peserta didik membuat desain inovatif sederhana dengan menerapkan teknologi yang dapat menjawab permasalahan yang ada di sekitar sekolah
    1. Peserta didik mengasah berbagai keterampilan berpikir (berpikir sistem, berpikir komputasional, atau design thinking) dalam mewujudkan produk berteknologi. 
    2. Peserta didik dapat mempelajari dan mempraktikkan proses rekayasa (engineering process) secara sederhana, mulai dari menentukan spesifikasi sampai dengan uji coba, untuk membangun model atau prototipe produk bidang rekayasa (engineering).
    3. Peserta didik juga dapat mengasah keterampilan coding untuk menciptakan karya digital, dan berkreasi di bidang robotika. Harapannya, para peserta didik dapat membangun budaya smart society dengan menyelesaikan persoalan-persoalan di masyarakat sekitarnya melalui inovasi dan penerapan teknologi, mensinergikan aspek sosial dan aspek teknologi. 
    4. Contoh muatan lokal: Membuat desain inovatif sederhana yang menerapkan teknologi yang dapat menjawab permasalahan yang ada di sekitar satuan pendidikan
  7. Kewirausahaan, Tema ini diusung dalam rangka menumbuhkan jiwa-jiwa kewirausahaan bagi peserta    didik. Peserta didik nantinya akan mengidentifikasi potensi ekonomi dan peluang usaha di tingkat lokal dan masalah yang ada dalam pengembangan potensi dan pengembangan usaha tersebut, serta kaitannya dengan aspek lingkungan, sosial dan kesejahteraan  masyarakat. Contoh kegiatannya adalah peserta didik bisa membuat produk dengan konten lokal yang memiliki daya jual
    1. Peserta didik kemudian merancang strategi untuk meningkatkan potensi ekonomi lokal dalam kerangka pembangunan berkelanjutan.
    2. Melalui kegiatan dalam projek ini seperti terlibat dalam kegiatan ekonomi rumah tangga, berkreasi untuk menghasilkan karya bernilai jual, dan kegiatan lainnya, yang kemudian diikuti dengan proses analisis dan refleksi hasil kegiatan mereka. 
    3. Melalui kegiatan ini, kreatifitas dan budaya kewirausahaan akan ditumbuhkembangkan. Peserta didik juga membuka wawasan tentang peluang masa depan, peka akan kebutuhan masyarakat, menjadi problem solver yang terampil, serta siap untuk menjadi tenaga kerja profesional penuh integritas. 
    4. Contoh muatan lokal: Membuat produk dengan konten lokal yang memiliki daya jual.

 

D. ALOKASI JAM PROJEK PER TAHUN

  1. SMA X : 486 JP 
  2. SMA XI : 216 JP
  3. SMA XII : 192 JP

E. CONTOH PENGEMBANGAN TEMA DAN TOPIK DI SETIAP FASE E DAN F

TEMATOPIK
Gaya Hidup BekelanjutanMendesain sistem pengelolaan sampah untuk mengatasi permasalahan banjir di lingkungan sekitar satuan pendidikan Fokus: Pengembangan akhlak terhadap alam Menghasilkan karya dan tindakan yang orisinal Memperoleh dan memproses informasi dan gagasan
Kearifan lokalGelaran seni yang memadukan elemen teknologi dan tradisi Fokus: Akhlak kepada manusia Menghargai perbedaan identitas (ras, agama, dll.) dan menampilkan apresiasinya atas perbedaan dalam bentuk aktivitas Menggali berbagai warisan budaya terkait seni dan menemukan cara mengenalkannya secara luas dengan memanfaatkan teknologi
Bhinneka Tunggal IkaMerencanakan dan melaksanakan bakti sosial di lingkungan sekitar satuan pendidikan, merespons isu kemanusiaan yang terjadi di masyarakat terdekat Fokus: Akhlak kepada manusia Mengidentifikasi hal yang menjadi permasalahan bersama, menawarkan titik temu kolaborasi dan mengidentifikasi pihak terkait untuk penyelesaiannya.
Bangunlah Jiwa dan RaganyaKoordinasi kegiatan OSIS antarsatuan pendidikan dalam bentuk kepanitiaan untuk kampanye dan aksi untuk menjaga kesehatan fisik dan mental remaja di lingkungan satuan pendidikan. Fokus: Mengidentifikasi hal yang menjadi permasalahan bersama, menawarkan titik temu kolaborasi dan mengidentifikasi pihak terkait untuk penyelesaiannya.
Suara DemokrasiMerancang alur pemilihan pengurus OSIS satuan pendidikan, membuat rencana kerja tahunan yang bisa melibatkan peserta didik dari berbagai jenjang, merencanakan program pengayaan untuk para pengurus dan kaderisasinya, dengan bantuan dewan penasihat OSIS satuan pendidikan Fokus: Akhlak kepada manusia Menunjukkan karakter toleransi pada orang dan kelompok lain serta berupaya mengutamakan kemanusiaan di atas perbedaan (agama, ras, suku, warna kulit, dll.) dan membantu orang lain. Mengapresiasi dan memberikan kritik yang konstruktif demi kemajuan orang lain dan lingkungan sekitarnya
Berekayasa dan Berteknologi untuk Membangun NKRIMerancang projek kebun organik yang berkelanjutan dilengkapi dengan alur kewirausahaannya Fokus: Akhlak kepada alam Mengidentifikasi masalah lingkungan hidup di tempat dia tinggal dan melakukan langkah-langkah konkret yang bisa dilakukan untuk menghindari kerusakan dan menjaga keharmonisan ekosistem yang ada di lingkungannya.
KewirausahaanMerintis koperasi sederhana di lingkup satuan pendidikan Fokus: Akhlak pribadi Merumuskan nilai-nilai moralnya sendiri, menyadari kekuatan dan keterbatasan dari nilai-nilai tersebut, sehingga bisa menerapkannya secara bijak dan kontekstual

 

CAPAIAN PEMBELAJARAN PKWU

KEPUTUSAN KEPALA BADAN STANDAR, KURIKULUM, DAN ASESMEN PENDIDIKAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET, DAN TEKNOLOGI NOMOR 008/H/KR/2022 TENTANG CAPAIAN PEMBELAJARAN PADA PENDIDIKAN ANAK USIA DINI, JENJANG PENDIDIKAN DASAR, DAN JENJANG PENDIDIKAN MENENGAH PADA KURIKULUM MERDEKA

Adapun Capaian Pembelajaran (CP) untuk SMA adalah Fase E untuk kelas X dan Fase F untuk Kelas XI dan XII, berikut CP mata pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan (PKWU) SMA yang meliputi 4 bidang, yaitu :

  1. CP PKWU BIDANG BUDIDAYA
  2. CP PKWU BIDANG KERAJINAN
  3. CP PKWU BIDANG PENGOLAHAN
  4. CP PKWU BIDANG REKAYASA

Sedangkan rangkuman CP PKWU SMA tiap Fasenya Sebagai berikut :

  1. CP PKWU FASE E Untuk Kelas X
  2. CP PKWU FASE F Untuk Kelas XI dan XII

Demikian uraian CP PKWU Kurikulum Merdeka, semoga bermanfaat.

Kamis, 18 Oktober 2018

PENELITIAN TINDAKAN KELAS


PENGGUNAAN  VIDEO  PEMBELAJARAN  ELEKTRONIKA  DASAR UNTUK  MENINGKATKAN  KEMAMPUAN  HIGH ORDER  THINKING (HOT)  SISWA  SMKN  2  BOGOR
Yuniarto Triadi 1
1 SMKN 2 Bogor, Kota Bogor, Kodepos 16154
Email Korespondensi : yuniartotriadi31@gmail.com
Abstrak
Pembelajaran kurikulum 2013 menekankan pada kemampuan High Order Thinking (HOT), untuk membantu siswa dalam proses berfikir tingkat tinggi dapat menggunakan video pembelajaran. Penelitian mengambil setting kelas XEA SMKN 2 Bogor sebanyak 35 siswa, pada mata pelajaran elektronika dasar tahun 2013/2014, menggunakan prosedur satu siklus dengan tiga pertemuan, yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan HOT siswa dengan menggunakan video pembelajaran elektronika dasar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) kemampuan HOT siswa kelas XEA sebelum menggunakan video pembelajaran sebesar 48,57 dalam kategori kurang, (2) respon siswa kelas XEA dalam pembelajaran yang menggunakan video pembelajaran berdasarkan hasil angket penggunaan video pembelajaran terdapat peningkatan sebesar 20,98%, (3) kemampuan HOT siswa kelas XEA meningkat setelah pembelajaran menggunakan video pembelajaran sebesar 60,48%, (4) ketuntasan belajar siswa kelas XEA meningkat sebesar 90,00%, dan (4) validitas video pembelajaran elektronika dasar sebesar 98,67 pada kategori baik. Adapun langkah-langkah pembelajaran dengan menggunakan video pembelajaran, yaitu : (1) Tahap persiapan : pilihlah video pembelajaran sesuai materi dan menarik, (2) Tahap Pelaksanaan : gunakan tombol pause untuk memberikan kesempatan kepada siswa dalam memahami materi yang ditayangkan, putar ulang bagian video pembelajaran yang menurut siswa masih kurang paham, sisipkan video klip musik atau video motivasi untuk membangun suasana belajar yang mulai menurun, (3) Tahapan Evaluasi : tanyakan kepada siswa untuk memberikan saran pengembangan video pembelajaran. Dengan demikian penggunaan video pembelajaran sangat efektif dan efisien dalam proses pembelajaran, dikarenakan dapat memperjelas hal-hal yang abstrak dan memberikan gambaran yang lebih realistis serta mengembangkan pikiran, imajinasi dan pendapat siswa, sehingga dapat meningkatkan kemampuan HOT siswa.

Kata Kunci : Video Pembelajaran Elektronika Dasar,  High Order Thinking

Pendahuluan
Proses pembelajaran pada kurikulum 2013 lebih mengarah kepada kemampuan berfikir tingkat tinggi atau High Order Thinking (HOT), yang mengharuskan siswa untuk mengolah, menganalisis, mengevaluasi dan mengkreasi informasi untuk menghasilkan pengertian dan implikasi yang baru (Nurina Ayuningtyas,2012). Disamping itu proses pembelajaran pada kurikulum 2013 terdiri atas 5 pengalaman belajar pokok, yaitu: (1) mengamati; (2) menanya; (3) mengumpulkan informasi; (4) mengasosiasi; dan (5) mengkomunikasikan.
Standar proses pembelajaran pada kurikulum 2013 menganut prinsip pembelajaran, antara lain : (1) siswa mencari tahu, (2) belajar berbasis aneka sumber belajar, (3) pembelajaran yang berlangsung di rumah, di sekolah, dan di masyarakat, (4) pembelajaran yang menerapkan prinsip bahwa siapa saja adalah guru, siapa saja adalah siswa, dan di mana saja adalah kelas, (5) pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran, dan (6) pengakuan atas perbedaan individual dan latar belakang budaya siswa. Dengan demikian untuk menunjang proses pembelajaran dibutuhkan media dan sumber belajar yang tepat sesuai dengan karateristik mata pelajarannya. Hal ini dikarenakan media pembelajaran mempunyai manfaat (Sa’dun Akbar,2013), sebagai berikut : (1) memperjelas penyajian pesan dan informasi, (2) meningkatkan dan mengarahkan perhatian siswa sehingga menimbulkan motivasi belajar dan interaksi secara langsung , (3) mengatasi keterbatasan indra, ruang dan waktu, (4) memberikan kesamaan pengalaman belajar kepada siswa.
Salah satu media pembelajaran yang dapat digunakan adalah video pembelajaran, karena dapat membantu guru untuk menarik minat belajar, melakukan penyesuaian dan meningkatkan daya kreativitas dalam proses penyampaian materi supaya menjadi lebih berkesan dan mudah sesuai karakteristik siswa, sehingga dapat secara interaktif mengikuti materi yang diajarkan dalam video (http://guraru.org). Ada 3 prinsip yang harus diperhatikan dalam pengembangan video pembelajaran (Christina Ismaniati,2012), yaitu : (1) define yaitu menganalisis kebutuhan, masalah, peserta didik, sumber, (2) develop yaitu merumuskan tujuan, pokok materi, naskah/narasi, soal evaluasi, membuat video pembelajaran, (3) evaluate yaitu melaksanakan ujicoba, menganalisis dan merevisi media pembelajaran.
Kendala yang dihadapi dalam kegiatan pembelajaran di kompetensi keahlian teknik audio video SMKN 2 Bogor adalah kesulitan siswa dalam memahami materi atau tugas yang membutuhkan kemampuan berfikir tingkat tinggi yang masih dalam kategori kurang. Mata pelajaran elektronika dasar pada kurikulum 2013 termasuk dalam kelompok C2 yaitu Dasar Kompetensi Keahlian (DKK) Teknik Elektronika, dimana tugas-tugas dimensi kognitif, psikomorik, dan afektif meliputi kemampuan berpikir analitis sederhana, pemecahan masalah, menyajikan data berdasarkan kondisi saat ini, mengevaluasi, dan mensintesis serta mengintegrasikan informasi dari berbagai sumber, sehingga menuntut kemampuan berfikir tingkat tinggi serta membutuhkan media pembelajaran yang dapat membantu siswa dalam memahami materi yang bersifat abstrak.
Berdasarkan uraian diatas, dalam rangka meningkatkan kemampuan HOT siswa maka dilakukan penelitian tentang penggunaan video pembelajaran di SMKN 2 Bogor.
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan Model Penelitian Tindakan dari Kurt Lewin, desain dan langkah-langkah penelitian terdiri dari satu siklus dengan 3 kali pertemuan, sebagai berikut :(1) Perencanaan (planning), meliputi kegiatan : melaksanakan tes awal pada pertemuan 1 untuk mengetahui tingkat kemampuan HOT siswa sebelum menggunakan video pembelajaran, menyusun RPP, menyusun video pembelajaran, menyusun soal HOT dan menyiapkan materi dan perangkat pembelajaran untuk pertemuan 2 dan 3, (2) Pelaksanaan Tindakan (acting), terdiri dari 2 pertemuan yang meliputi kegiatan : melaksanakan pembelajaran yang mengacu pada RPP, dan melaksanakan tes dan pengisiam instrumen pembelajaran, (3) Observasi (observing), meliputi kegiatan : membuat catatan hasil pengamatan terhadap proses dan hasil pembelajaran, yang berupa hasil tes dan instrumen pembelajaran., (4) Refleksi (reflecting), meliputi kegiatan : merefleksi apakah hasil pembelajaran menunjukkan peningkatan kemampuan berfikir tingkat tinggi siswa, jika hasilnya kurang memuaskan maka dilanjutkan pada siklus berikutnya. Untuk lebih jelasnya digambarkan sebagai berikut :


Gambar.1. Model Penelitian Tindakan dari Kurt Lewin

Setting penelitian mengambil lokasi di kampus SMK Negeri 2 Bogor, yang beralamat di Jalan Pangeran Sogiri No 404 Tanah Baru Bogor, Jawa Barat, pada kompetensi keahlian teknik audio video tahun pelajaran 2013/2014. Subyek penelitian adalah siswa kelas X-EA sebanyak 35 siswa , pada mata pelajaran elektronika dasar. Instrumen yang digunakan adalah instrumen pembelajaran, angket penggunaan video pembelajaran dan soal tes untuk menganalisis kemampuan HOT siswa pada mata pelajaran elektronika dasar.
Teknik pengumpulan data dengan cara sebagai berikut : (1) Pelaksanaan tes awal pada pertemuan 1, untuk mengetahui tingkat kemampuan HOT siswa sebelum menggunakan video pembelajaran. (2) Pembelajaran dengan menggunakan video pembelajaran berupa hasil tes dan angket penggunaan video pembelajaran serta instrumen pembelajaran. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisa deskriptif untuk mendeskripsikan pengaruh penggunaan video pembelajaran terhadap peningkatan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa, menggunakan nilai rata -ratanya kemudian diintepretasikan sebagai berikut : (1) Untuk intepretasi nilai tes, kriteria ketercapaian kompetensi minimal adalah ≥ 60 dan kriteria ketuntasan belajar adalah ≥ 75% siswa yang telah mencapai kompetensi minimal. (2) Untuk intepretasi angket video pembelajaran dan instrumen pembelajaran, menggunakan nilai konversi validitas (Sa’dun Akbar,2013), kriteria efektifitas video pembelajaran minimal ≥ 61, (3) Untuk mengetahui tingkat pemahaman atau pengusaan kemampuan berfikir tingkat tinggi siswa menggunakan rumus normal gain atau N-Gain
(Yanti H,2006), sebagai berikut :
Ngain   =          ((N2-N1) / (Nmaks-N1)) x 100%
Dimana :          N1        : Nilai tes 1
N2        : Nilai tes 2
Nmaks : Nilai maksimum

Hasil Penelitian dan Pembahasan
Secara umum pembahasan dari hasil penelitian diatas, dapat dijelaskan sebagai berikut :
1.      Untuk mengetahui pengaruh penggunaan video pembelajaran elektronika dasar terhadap  peningkatan kemampuan berfikir tingkat tinggi siswa kelas XEA, dapat dilihat berdasarkan hasil tes selama 3 pertemuan, hasilnya sebagai berikut :
Tabel 1: Kemampuan HOT Siswa
NO
INDIKATOR
PERTEMUAN
N GAIN
KET
1
2
3
A
Analyze (menganalisis)
70.71
81.90
85.71
21.05
NAIK
1
Differentiating (membedakan)
80.71
81.43
92.86
14.04
NAIK
2
Organizing (mengorganisasikan)
87.14
94.29
97.14
50.00
NAIK
3
Attributing (menghubungkan)
44.29
70.00
67.14
-9.52
TURUN
B
Evaluate (mengevaluasi)
55.71
48.81
80.95
62.79
NAIK
4
Checking (mengecek)
70.00
63.33
73.33
27.27
NAIK
5
Critiquing (mengkritisi)
41.43
34.29
88.57
82.61
NAIK
C
Create (menciptakan)
12.14
52.62
85.71
69.85
NAIK
6
Generating (menyusun)
10.00
37.86
95.71
93.10
NAIK
7
Planning (merencanakan)
9.29
48.57
70.00
41.67
NAIK
8
Producing (menghasilkan)
17.14
71.43
91.43
70.00
NAIK
D
RATA-RATA NILAI
48.57
60.00
84.19
60.48
NAIK
E
KETUNTASAN BELAJAR
25.71
71.43
97.14
90.00
NAIK

Dari tabel.1 diatas, dapat dijelaskan sebagai berikut :
a.      Kemampuan berfikir tingkat tinggi siswa pada tingkatan atau tahapan menganalisa mengalami kenaikan sebesar 21,05%, walaupun masih ada bagian yang belum menunjukan kenaikan, yaitu pada tahapan berfikir dalam menghubungkan (Attributing).
b.      Kemampuan berfikir tingkat tinggi siswa pada tingkatan atau tahapan mengevaluasi mengalami kenaikan sebesar 62,79%
c.      Kemampuan berfikir tingkat tinggi siswa pada tingkatan atau tahapan mencipta mengalami kenaikan sebesar 69,85%
d.      Secara umum kemampuan berfikir tingkat tinggi siswa meningkat sebesar 60,48%,
e.      Tingkat ketuntasan belajar siswa meningkat sebesar 90,00%,
2.      Untuk mengetahui respon siswa selama pembelajaran dengan menggunakan video pembelajaran, dapat dilihat berdasarkan hasil angket penilaian video pembelajaran selama 2 pertemuan, hasilnya sebagai berikut :
Tabel 2 : Penilaian Video Pembelajaran
NO
INDIKATOR
PERTEMUAN
N GAIN
KATEGORI
2
3
1
Kesesuaian video pembelajaran dengan tujuan pembelajaran
65.71
70.30
13.38
NAIK
2
Kesesuaian video pembelajaran dengan materi
65.71
73.94
23.99
NAIK
3
Kemampuan video pembelajaran dalam  mengembangkan motivasi belajar siswa
56.57
57.58
2.31
NAIK
4
Kemampuan video pembelajaran dalam menarik perhatian siswa
54.29
60.00
12.50
NAIK
5
Kemampuan video pembelajaran dalam menciptakan rasa senang siswa
49.71
55.76
12.02
NAIK
6
Kemampuan video pembelajaran dalam memahami dan mengingat materi
50.86
53.33
5.04
NAIK
7
Kemampuan video pembelajaran dalam mengulang apa yang dipelajari
57.71
63.64
14.00
NAIK
8
Kemampuan video pembelajaran dalam stimulus belajar
52.00
72.73
43.18
NAIK
9
Kemampuan video pembelajaran untuk umpan balik dengan segera
52.00
68.48
34.34
NAIK
10
Kemampuan video pembelajaran dalam menggalakan latihan yang serasi
55.43
63.03
17.06
NAIK
11
Kemampuan video pembelajaran dalam penyesuaian dengan lingkungan belajar
52.57
72.12
41.22
NAIK
12
Kemudahan penggunaan video pembelajaran dalam pembelajaran
52.57
67.27
31.00
NAIK
13
Efesiensi video pembelajaran terhadap waktu, biaya dan tenaga
62.86
68.48
15.15
NAIK
14
Keamanan video pembelajaran
68.57
76.36
24.79
NAIK
15
Kualitas video pembelajaran
66.86
73.94
21.37
NAIK
%-TASE
57.56
66.46
20.98
NAIK

Dari tabel.2 diatas, secara umum respon siswa terhadap penggunaan video pembelajaran mengalami kenaikan sebesar 20,98%, walaupun masih ada beberapa indikator yang masih perlu penekanan lagi, yaitu :
a.      Kemampuan video pembelajaran dalam mengembangkan motivasi belajar siswa,  diusahakan dengan menambahkan ilustrasi atau tampilan video yang lebih menarik
b.      Kemampuan video pembelajaran dalam memahami dan mengingat materi, diusahakan dengan menggunakan narasi yang berbahasa indonesia
c.      Dalam pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan video pembelajaran, perlu memperhatikan beberapa hal, sebagai berikut :
1)     Tahap persiapan :
                            i.     Pilihlah video pembelajaran yang sesuai dengan materi dan menarik
                            ii.     Ganti narasi yang berbahasa asing dengan menggunakan bahasa indonesia
                            iii.     Gunakan LCD proyektor dan sound system yang memadai
2)     Tahap Pelaksanaan :
                            i.     Gunakan tombol pause untuk memberikan kesempatan kepada siswa dalam memahami materi yang ditayangkan.
                            ii.     Putar ulang bagian video pembelajaran yang menurut siswa masih kurang paham
                          iii.     Sisipkan video klip musik atau video motivasi untuk membangun suasana belajar yang mulai menurun
3)     Tahapan Evaluasi :
                           i.     Tanyakan kepada siswa tentang tampilan, materi, dan soal latihan yang ada pada video pembelajaran yang telah selesai ditayangkan
                           ii.     Sebarkan angket penggunaan video pembelajaran dan minta kepada siswa untuk memberikan saran pengembangan video pembelajaran
3.      Untuk mengetahui validitas video pembelajaran elektronika dasar, dapat dilihat dari hasil angket penggunaan video pembelajaran yang dinilai oleh observer selama 2 pertemuan, adapun hasilnya sebesar 98,67 pada kategori amat baik, dengan saran-sarannya sebagai berikut :
a.      Perlu adanya peningkatan media video pembelajaran
b.      Agar adanya peningkatan video pembelajaran pada tiap tingkat atau kelas
c.      Kualitas video pembelajaran diperlukan agar lebih menarik minat siswa dalam kemudahan bagi guru dalam menyampaikan materi.

Simpulan, Saran, dan Rekomendasi
Berdasarkan hasil penelitian tindakan tentang penggunaan video pembelajaran elektronika dasar untuk meningkatkan kemampuan berfikir tingkat tinggi siswa kelas XEA SMKN 2 Bogor meningkat sebesar 60,48%.
Adapun saran-saran dalam penggunaan video pembelajaran dan pengembanganya, sebagai berikut :
1.      Bagi siswa, video pembelajaran dapat digunakan belajar dimanapun dan kapanpun serta dapat ditayangkan berkali-kali untuk melatih kemampuan berfikir tingkat tinggi siswa,
2.      Bagi Guru : (a) Pilihlah video pembelajaran yang sesuai dengan materi dan karateristik siswa, (b) Gunakan bahasa narasi yang mudah dimengerti siswa, (c) Sisipkan pertanyaan yang mengarah kepada kemampuan berfikir tingkat tinggi siswa disetiap sesi video pembelajaran, (d) Sisipkan video klip musik atau video motivasi disela-sela video pembelajaran, untuk membangkitkan semangat belajar siswa
3.      Bagi Sekolah : (a) Dapat digunakan dalam pengembangan e-learning disekolah, terutama untuk penambahan materi bagi siswa yang sedang melaksanakan praktek kerja di  industi, (b) Dapat dikembangkan untuk mata pelajaran lainnya, (c) Dapat dikembangkan untuk pembuatan video pembelajaran yang bersifat tutorial
Daftar Pustaka
Akbar Sa’dun. 2013. Instrumen Perangkat Pembelajaran. Bandung : Remaja Rosdakarya

Ayuningtyas Nurina. 2012. Proses Penyelesaian Soal Higher Order Thinking Materi Aljabar Siswa                  SMP Ditinjau Berdasarkan Kemampuan Matematika Siswa. Surabaya : Universitas Negeri                  Surabaya

Gunawan W Adi. 2006. Genius Learning Strategy. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama

Herlanti Yanti. 2006. Tanya Jawab Penelitian Pendidikan Sains. Jakarta : UIN Syarif Hidayatullah

Ismaniati Christina. 2012. Pengembangan dan Pemanfaatan Media Video Instruksional untuk                          Meningkatkan kualitas Pembelajaran . Majalah  Ilmiah Pembelajaran

Sugiyono. 2014. Metode Penelitian Kombinasi. Bandung : Alfabeta

Wardoyo Mangun Sigit. 2013. Pembelajaran Konstruktivisme. Bandung : Alfabeta

Wind Ajeng. 2014. Jago Membuat Video Tutorial. Jakarta : Dunia Komputer

http://guraru.org/guru-berbagi/pengunaan video tutorial dalam proses pembelajaran di smk. diunduh :           22 / 04 / 2014 / 17:01:30